Senin, 29 November 2010

Confucius Dipandang dari Iman Kristen

CONFUCIUS
Sejarah / riwayat hidup Confucius
Confucius lahir sekitar tahun 551 SM di kota kecil Lu di desa Chang Ping, sekarang termasuk wilayah profinsi Shantung di timur laut daratan China. Dia hidup pada zaman dinasti Chou, masa menyuburnya kehidupan intelektual di China, sedangkan penguasa saat itu sama sekali tidak mempedulikan petuah-petuahnya.  Leluhurnya merupakan anggota wangsa bangsawan penguasa negara Sung yang termasuk dalam wangsa raja-raja Shang, yakni dinasti yang berkuasa sebelum berkuasanya Dinasti Zhou. Akibat kekacauan politik menyebabkan orang tuanya kehilangan kebangsawanannya dan pindah ke negara Lu, hingga ia dilahirkan. Confucius lahir dari keluarga miskin sehingga dia terpaksa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Kemiskinan itu membuat dia merasa memiliki ikatan dengan kebanyakan orang. Confucius memiliki nama kecil Khung Chiu atau Zhong Ni. Ayahnya meninggal dunia saat Confucius berusia 3 tahun. Ayahnya bernama Shu Liang He, seorang pahlawan (peringkat kebangsawanan terendah) dari kabupaten terpencil di Lu yang terkenal akan keberanian dan kekuatannya. Sejak masa kecil anak itu telah memperlihatkan kebijaksanaan yang luar biasa dalam pergaulan sehari-hari. Confucius menyelesaikan pendidikannya dalam waktu singkat. Confucius memusatkan perhatiannya pada pendidikan pada umur 15 tahun. Ibunya meninggal dunia ketika dia berusia 17 tahun. Pada umur 19 tahun dia menikahi gadis dari negara bagian Song, bernama Yuan Guan. Dari pernikahannya dia memiliki anak yang bernama Khung Li.
 Nama baik dan kebijaksanaan hidup Confucius kemudian tersebar luas dengan cepat dan menarik perhatian sekelompok pengikut. Para pengikut Confucius bahkan memberikan klaim bahwa belum ada orang seperti Guru mereka itu. Walaupun begitu, profesi Confucius sebagai guru privat merupakan sebuah kegagalan jika ditinjau dari ambisi hidupnya. Tujuan hidup Confucius sebenarnya adalah untuk menjadi seorang pejabat di pemerintahan. Confucius meyakini teori-teorinya tidak dapat dilaksanakan jika tidak disalurkan langsung melalui kehidupan nyata, yaitu pemerintah. Kehidupannya berubah setelah ia berhasil menjadi pegawai pemerintahan di negara Lu yang dijalaninya sejak usia 35 hingga 60 tahun. Adanya konspirasi politik mengharuskannya meletakkan jabatan dan hidup dalam pembuangan. Suatu ketika, Confucius pada akhirnya mendapat jabatan dalam pemerintahan, namun jabatan tersebut bukanlah jabatan yang yang memiliki kekuasaan. Jabatan tersebut diberikan seorang penguasa yang meminta nasehat Conficius. Namun, karena mengetahui tipu muslihat penguasa tersebut memberikan jabatan tersebut agar Confucius tutup mulut, ia pun mengundurkan diri. Hampir selama 13 tahun ia hidup mengembara ke setiap wilayah, dengan satu harapan dan cita-cita untuk dapat melakukan perombakan di bidang politik dan kemasyarakatan, sampai-sampai ia mendapat julukan "raja tanpa takhta". Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang guru keliling, berjalan kaki mengajar kebaikan kepada semua orang yang sudi menerima buah pikirannya. Karena profesi inilah, ia sampai sekarang dihormati sebagai "guru teladan sepuluh ribu generasi”. Kegagalan mewujudkan impiannya, mengantarkannya kembali ke tanah kelahiran untuk mengajar dan mengabadikan karya-karya tradisi klasik. Ia menuliskan satu-satunya kitab yang disusunnya sendiri, yakni Kitab Rangkaian Ch'un Ch'iu (Spring and Autums Annals). Kitab tersebut mencatat berbagai kejadian dalam sejarah Tiongkok pada era Ch'un Ch'iu hingga ia wafat pada 479 SM, bulan ke-4 tahun ke-16 dalam masa pemerintahan bangsawan Ai, atau sekitar permulaan abad ke-5 SM. Confucius meninggal dunia pada tahun 479 SM bulan ke-4 tahun ke -16 dalam masa pemerintahan bangsawan Ai dalam usia 73 tahun.
THEORY OF KNOWLEDGE
Menurut Confucius, apa itu pengetahuan ? Jika anda mengetahui sesuatu maka anda tahu bahwa anda mengetahuinya; jika anda tidak mengetahui sesuatu, maka anda tahu bahwa anda tidak mengetahuinya. Nah itulah pengetahuan. Menurut Rusti Febrina Dumauli Siagian (30720080071), pengetahuan yang didefnisikan oleh Confucius belum mencakup makna pengetahuan itu sendiri. Definisi yang digunakan oleh Confucius tersebut menurut saya dapat diganti dengan kata kesadaran. Kesadaran dimana seseorang menyadari apa yang sudah diketahuinya atau yang belum diketahuinya. Meskipun sesungguhnya untuk mengetahui apakah kita mengetahui sesuatu atau tidak menegatahui sesuatu, diperlukan kesadaran. Jika tidak ada kesadaran mana mungkin kita mengetahui bahwa kita mengetahui sesuatu atau tidak. Contohnya jika seseorang tidak sadar diri, maka seseorang tersebut tidak mungkin mengetahui sesuatu. Jika seseorang sedang pingsan maka tidak mungkin seseorang tersebut dapat menganalisa apakah ia mengetahui sesuatu atau tidak. Menurut kamus bahasa Indonesia, defenisi kesadaran adalah (1) keadaan mengerti ; (2) hal yang dirasakan atau dialami seseorang. Sedangkan defenisi pengetahuan adalah (1) segala sesuatu yang diketahui : kepandaian (2) segala sesuatu yg diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Mari kita coba mengartikan pengetahuan dari defenisi bahasa Inggrisnya, knowledge. Menurut kamus bahasa Inggris, knowledge is acquaintance with facts, truths, or principles, as from study or investigation; general erudition: knowledge of manythings. Terjemahan bahasa inggris tersebut adalah kenalan dengan fakta, kebenaran, atau prinsip-prinsip, sebagai dari penelitian atau penyelidikan; pengetahuan umum: pengetahuan tentang banyak hal. Kesadaran yang dalam padanan bahasa inggrisnya adalah (1) awareness, memiliki arti having knowledge; conscious; cognizant; aware of danger (2) informed; alert; knowledgeable; sophisticated. Terjemahan bahasa inggris tersebut adalah memiliki pengetahuan; sadar; menyadari: menyadari bahaya (2) informasi; siaga; berpengetahuan; canggih. Dari defenisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penertian pengetahuan tidak sama dengan pengertian kesadaran (jika anda mengetahui sesuatu maka anda tahu bahwa anda mengetahuinya; jika anda tidak mengetahui sesuatu, maka anda tahu bahwa anda tidak mengetahuinya).
Menurut Rusti dari defenisi pengetahuan di atas maka muncul sebuah pertanyaan penting, sebetulnya dari mana sumber pengetahuan itu? Dalam bukunya yang berjudul Education in Truth, Norman De Jong mengatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari Allah dan pergi kepada-Nya, ‘all knowledge comes from God and goes from Him’. Hal itu adalah benar adanya. Segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini dijadikan oleh Allah. Kata segala sesuatu berarti pengetahuan juga ada di dalam segala sesuatu tersebut. Intinya pengetahuan diciptakan oleh Tuhan. Hal itu sangat jelas tertulis di Yohanes 1:3 ‘segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada satupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.’
CONCEPT OF HUMAN NATURE
Confucius telah berpuluhan tahun pergi ke banyak negara untuk mempraktekkan teori-teorinya, tetapi tidak ada satu raja yang mau memakainya, karena beliau berani memberi kuliah raja-raja bagaimana mereka harus bertindak dengan teorinya tentang kebenaran, kejujuran, humanisme, keadilan dan senantiasa memberi komentar dan bahkan kritik. Bekerja dengan beliau akan memberikan pengalaman yang tidak nyaman. Beliau lain dengan murid-muridnya Ran Qiu, Fan Chi, Zi Gong, Zi Xia, Zi Lu  sebagai contoh cepat, cerdas, efisien, berbudi dan banyak akalnya.
    Waktu Confucius sakit  raja dari negara Lu, Duke Ai, memberikan makanan sehat, obat-obatan dan perawatan dari dokter kerajaan, semuanya ditolak oleh Confucius. Murid-muridnya tahu bahwa penolakan itu disebabkan kurangnya penghormatan raja sewaktu hidupnya Beliau. Dari kisah hidup Confucius diatas Selsiana Restiati (30720080074) mengkritisi tentang kehidupan Confucius, selama hidupnya dia banyak membagi ilmu kepada orang-orang yang ia temui. Confucius merupakan sosok yang pemberani, teorinya tentang kebenaran, kejujuran, humanisme, keadilan dan senantiasa memberi komentar dan bahkan kritik. Dalam perjalanan hidupnya, banyak sekali orang-orang yang tidak menghargai pengajarannya sehingga memberi dampak bagi kehidupannya secara pribadi. Ketika Confucius sakit, dia menolak bantuan dari Raja karena dia menganggap Raja tidak menghormati Confucius selama hidupnya. Melalui keadaan Confucius tersebut, kita dapat mengkritisi hal nature manusia yang berdosa. Ketika manusia tersakiti maka sulit baginya untuk mengampuni, manusia diciptakan dengan kehendak yang bebas dan akal budi. Apa yang dialami oleh Confucius merupakan gambaran dari manusia saat ini, kebaikan hati dibalas dengan ketidak penghargaan manusia akan kebenaran sehingga banyak orang yang terluka.
Menurut Selsi, sikap Confucius sangat bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan walaupun dia pernah tersakiti oleh tindakan raja, seharusnya dia mau menerima bantuan Raja. Mungkin kita tidak tahu apa maksud dibalik bantuan raja tersebut tetapi tindakan yang harus Confucius lakukan adalah menerimanya  dengan ketulusan hati dengan tujuan walaupun Raja tidak pernah menghargai/menghormati dia selama hidupnya tetapi Confucius tetap membalas dengan menghargai juga sehingga Raja dapat melihat sikap hidup yang benar untuk saling menghargai dan menghormati. Sebagai anak Tuhan, kita harus mengampuni walaupun pernah tersakiti sebab Firman Tuhan berkata: Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15).
Stephanie Janice (30720080081) ingin mengkritisi pendapat Confusius tentang statement dibawah ini:
 'Is goodness indeed so far away? If we really wanted goodness, we should find that it was at our side.'" (Analects 7:29). Confusius mengatakan bahwa pada dasarnya manusia itu naturnya adalah baik. Namun dia pun menghadapi kenyataan bahwa dia tidak pernah menemukan manusia yang sungguh-sungguh peduli dengan kebaikan, juga dengan manusia yang benar-benar membenci kejahatan (Analects 4 : 6).
Menurut Janice, manusia diciptakan sesuai dan serupa dengan gambaran Allah (Imago Dei). Pada dasar penciptaan itu sendiri, manusia itu adalah baik adanya diciptakan oleh Tuhan. Namun setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3), manusia kini penuh dosa karena memberontak menentang Tuhan. Manusia menuruti keinginan mereka sendiri. Rasul Paulus pun menulis dalam Roma 7:18, “Saya tahu bahwa tidak ada sesuatu pun yang baik di dalam diri saya; yaitu di dalam tabiat saya sebagai manusia. Sebab ada keinginan pada saya untuk berbuat baik, tetapi saya tidak sanggup menjalankannya.” Janice lebih melihat di sini bahwa manusia pada dasarnya lebih mementingkan keinginan diri sendiri (egois). Seperti contoh yang terdapat dalam Kejadian 3, manusia yang diciptakan oleh Allah lebih menuruti hawa nafsunya untuk menentang keinginan Allah agar tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Manusia memiliki keinginan untuk melanggar perintah Tuhan dikarenakan keegoisan dan pemenuhan atas penasaran pribadi yang tidak dapat mereka kuasai untuk ingin menjadi sama dengan Allah, yakni mengetahui yang mana baik dan yang mana jahat. Sifat dasar manusia yang egois dan ingin menjadi sama seperti Allah inilah yang membuat saya kurang setuju dengan filsafat dari Confusius bahwa pada dasarnya natur dari manusia adalah baik. Memang benar Allah menciptakan segala ciptaanNya dan semuanya itu baik adanya, namun seperti yang saya ungkapkan di atas, dosa asal manusia tersebutlah yang menjadikan manusia kehilangan naturnya yang baik seperti yang Allah ciptakan pada awalnya. Manusia telah kehilangan esensi dari natur yang baik itu dan akibat perbuatan manusia itu sendirilah yang menjadikan natur dari manusia itu adalah berdosa.
Berangkat dari hal tersebut, maka Janice berpikir bahwa tujuan dari kedatangan Yesus Kristus ke dunia adalah untuk menghapuskan dosa-dosa umat manusia dan agar manusia mendapat keselamatan kekal yang dari Bapa. Perlu ada transformasi dari hati setiap manusia dan perubahan ke arah yang  lebih baik itu hanya bisa dilakukan jika sepenuhnya manusia menyandarkan hidupnya kepada Allah Bapa melalui anakNya yang tunggal Yesus Kristus. Natur manusia yang berdosa dapat diubahkan hanya jika Allah Bapa tinggal dan menetap di dalam hati dan kehidupan dari manusia.
THE PURPOSE OF LIFE
Menurut Dewi Linawati (40120080008), konsep manusia ideal yang ditawarkan oleh Confucius adalah Chun Tzu yang agung atau dalam istilah bahasa inggris disebut (gentlemen), seseorang dapat menjadi pimpinan bukan karena keturunan tetapi karena keagungan watak dan tingkah laku yang baik. Menurut Confucius bahwa setiap manusia berpotensi menjadi chu-tzu , dan di dalam naluri manusia terkandung benih-benih kebaikan yang terdiri dari jen (perikemanusiaan), yi (kelayakan), li (sopan santun), dan chi (kebijaksanan); karena secara keseluruhan masih berwujud suatu potensi, maka proses selanjutnya secara lengkap merupakan tanggung jawab manusia, hal ini berkaitan dengan kemauan dan kemampuan seseorang di dalam upaya menumbuh kembangkan benih-benih tersebut bagi diri pribadinya. Dengan demikian berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar manusia mempunyai peran yang demikian besar terutama dalam perwujudan jati diri manusia, maka cara yang paling tepat dan baik adalah hendaknya senantiasa berpedoman kepada agama, kepercayaan, dan norma-norma yang masih berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia dewasa ini (Lasiyo, 1998 : 8-9).
Beberapa pengertian Chun-tzu menurut Confucius : Chun-tzu adalah seoarang pemberani yang dapat menyelaraskan berbagai macam hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas moral kepribadiannya (Dawson, 1981 : 54). Sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang chu-tzu adalah :
•  Setia dan selalu berbuat baik serta berusaha untuk mawas diri.
•  Mencintai sesuatu yang benar dan tidak mementingkan dirinya sendiri.
Chu-tzu bisa tumbuh karena manusia mempunyai nature Allah ketika manusia pertama diciptakan. Sedangkan kemauan dan ketidakmauan tumbuh akibat manusia jatuh dalam dosa yang akhirnya manusia tahu akan yang baik dan yang buruk. Peran lingkungan sekitar memang dapat membentuk pribadi seseorang, tetapi manusia itu sendiri yang mempunyai keputusan untuk melakukan yang baik itu sendiri atau tidak. Tuhan member kebebasan manusia untuk memilih seperti ketika Tuhan memberi kesempatan pada manusia makan atau tidak makan buah pengethuan. Tetapi, ketika Kristus sudah dating ke dunia, manusia sudah dihapuskan dosannya, sehingga manusia seharusnya hidup benar hanya dalam Allah.
•  Mengutamakan masalah moral (Dawson, 1981 : 55).
Oleh karena itu seorang chun-tzu selalu berusaha untuk dapat hidup dan bekerja sama dengan masyarakat dimana ia berada, agar dengan demikian ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi mau beramal apa saja demi untuk kepentingan masyarakat bangsa dan negaranya. Confucius dalam membahas masalah chun-tzu lebih banyak berbicara tentang masalah moral, karena moral merupakan dasar dari keberhasilan pembangunan suatu bangsa, tanpa landasan pada moral suatu bangsa akan segera mengalami keruntuhan (Ya'qub, 1978 : 26).
Septi Ardhini Epifanias (30720080075) akan menyoroti tentang tujuan dari ajaran Kongfucius. Ajaran Kongfucius dikenal dengan nama Kongfusianism. Konfusianisme adalah kemanusiaan, suatu filsafat atau sikap yang berhubungan dengan kemanusiaan, tujuan dan keinginannya, daripada sesuatu yang bersifat abstrak dan masalah teologi. Dalam Konfusianisme manusia adalah pusat daripada dunia: manusia tidak dapat hidup sendirian, melainkan hidup bersama-sama dengan manusia yang lain. Bagi umat manusia, tujuan akhirnya adalah kebahagiaan individu.
Jika dilihat dari kacamata kekristenan ini sangat bertolak belakang dengan tujuan akhir atau tujuan hidup dari seorang Kristiani. Jika berdasarkan sumber yang dipakai http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20051106.htm, tujuan hidup orang Kristen adalah untuk Tuhan bukan untuk diri sendiri. Kita ini adalah ciptaan baru yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10). Tujuan hidup orang Kristen berbeda dengan dunia. Kita seharusnya menyadari bahwa kita adalah budak dan budak tidak memiliki hak atas hidup dan matinya dan seorang budak tidak dapat menyembah pada dua tuan. Jadi, kalau kita adalah budak Kristus berarti Kristus yang menjadi tuan atas diri kita. Kita hidup untuk Tuhan dan jika mati, kita mati pun untuk Tuhan. Menyenangkan hati Tuhan haruslah yang menjadi tujuan utama hidup kita. Ingat, segala kesenangan duniawi hanya bersifat semu belaka, semuanya itu seperti asap yang sebentar kelihatan tapi kemudian hilang untuk selamanya. Karena itu, janganlah sia-siakan hidupmu yang hanya satu kali di dunia ini untuk mengejar segala hal yang bersifat semu tetapi gunakanlah hidupmu hanya untuk Tuhan maka kita akan merasakan sukacita sejati. Jadi menurut Septi yang menjadi intinya adalah bahwa tujuan akhir hidup orang Kristen bukanlah untuk mencari kebahagiaan diri sendiri maupun keuntungan dalam hidup melainkan untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan.
 DISCUSSION OF GOD
Dari buku The Analect of Confucius, Septi Ardhini Epifanias (30720080075) akan mengkritisi tentang “T’ien”. Kata t’ien dalam buku tersebut diartikan sebagai Heaven dan juga kadang diartikan langit “the sky”. Kata surga “heaven” dihubungkan dengan takdir, alam dan Allah.  Dari konsepsi China yang akrab kita dengar, sebuah pertanyaan yang muncul adalah mengapa suatu kata memiliki arti langit “sky” dapat memiliki konotasi dengan Allah, providensi, dll? ‘deva’ dalam bahasa sansekerta, ‘deus’ dalam bahasa yunani, dan ‘God’ dalam diduga memiliki hubungan yang kuat dengan akar perbincangan dari suatu kata yang memiliki arti langit. Istilah surga seperti yang sering digunakan dalam rata-rata teks cina awal sesuai persis dengan Shang Ti, istilah yang terus menerus digunakan dalam Kitab lagu dan beberapa di tempat lain. Shang memiliki arti atas, paling atas, dan tertinggi; Ti berarti leluhur. Luluhur disini bukan tidak berarti suatu hubungan ikatan darah, melainkan suatu kerajaan leluhur yang disembah juga oleh raja-raja sebelumnya. Menurut masyarakat di China,  leluhur ‘Ti’ diam di pengadilan Surga. Dari hal diatas Septi tahu mengapa t’ien “sky” dihubungkan dengan Surga, Allah, dll, ini dikarenakan menurut masyarat China leluhur atau pendahulu termasuk mantan raja setelah mereka meningggal mereka akan berada di suatu tempat tertinggi, di atas di langit, yaitu Surga. Mereka menyembah para leluhurnya tersebut dan menganggap mereka sebagai Tuhan, yang diam di Surga.
Siapakan Tuhan itu?? Dalam Keluaran 3:14-15, “Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." … Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya”. Ini mengandung konsep bahwa Dia lengkap dalam diri-Nya. Dia adalah subjek sekaligus kata kerja. Dia dapat memenuhi segala yang kita butuhkan. Terjawab juga dalam kitab Yohanes, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6). Dia juga mengatakan, “Akulah roti hidup” (6:48), “terang dunia” (8:12), “gembala yang baik” (10:11), dan “kebangkitan dan hidup” (11:25). Dalam Wahyu, Yesus menyatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir” (22:13). Dan Dia mengatakan, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58). Dari pemaparan di atas tentang T’ien dan jika dibandingkan dengan yang ada dalam Alkitab, Septi tidak setuju dengan terjemahan yang menghubungkan arwah leluhur dengan surga dan yang kemudian dituhankan. Bagaimana bisa Allah yang kekal yang menciptakan langit dan bumi disamakan dengan arwah leluhur yang jelas-jelas mereka dulunya adalah seorang manusia, sama seperti mereka dan hal ini sangat bertentangan dengan Alkitab karena mereka menyembah allah lain, yaitu para leluhur yang mereka tinggikan. Hal ini melanggar salah satu dari kesepuluh perintah Allah “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3). Tidak ada hal yang boleh disembah selain Allah yang menciptakan langit dan bumi karena hanya Dialah yang dapat membawa manusia dalam hidup yang kekal,“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 6:14), Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Dari nas yang tertulis di atas semakin menjelaskan bahwa tidak ada jalan yang lain dan yang dapat mengantarkan manusia sampai kepada hidup yang kekal atau surga, selain melalui Yesus Kristus.
ETHICS
Bagi Confucius, orang yang memiliki cinta kasih (Ren) adalah orang yang bermartabat. Confucius sangat menekankan sekali konsep mengenai “Ren”. Menurutnya, kualitas hidup seseorang, kasih terhadap sesama  dapat diukur dari sana. Ren adalah dasar untuk mencapai Kebenaran (Yi), Kebijaksanaan (Zi), dan Dapat Dipercaya (Xin). "Ren adalah kesanggupan untuk mencapai lima hal didunia, yaitu hormat, lapang hati, dapat dipercaya, cekatan, murah hati". Menurut Venny Yulianti Simanjuntak (30720080088) mengapa hal ini begitu penting? Karena  menurut Venny, orang tidak akan bisa menjadi manusia yang baik bila ia tidak bisa mencintai sesamanya terlebih dahulu. Ia akan mengasihi sesama, ia tidak akan membiarkan orang lain terpuruk sementara ia berhasil. Ia akan berusaha untuk membantu orang lain agar bisa maju. Hal inilah yang dimaksud oleh Confucius mengasihi dan mencintai sesama.  Confucius sangat peduli pada kehidupan sosial. Keegoisan pun sangat ditolaknya dengan prinsip yang demikian. Ia sangat mendahulukan kepentingan bersama dalam bermasyarakat. Baginya hal yang penting bukan hanya terpusat pada diri sendiri saja. Confucius sangat mengutamakan keseimbangan pribadi dengan bermasyarakat. Hal ini sangat baik bila diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ini akan mewujudkan masyarakat yang tinggi akan rasa gotong royong dan rasa sosialnya.
Bagi Confucius, kebjiksanaan sangatlah penting. Kebijaksanaan yang ia maksudkan adalah rasa mawas diri dan berani mengoreksi kesalahan diri sendiri. Confucius juga mendasarkan bahwa kebijaksanaan harus dicapai dengan dilandasi semangat kejujuran dan keterbukaan. Dalam mencapai kebijaksaan diperlukan kejujuran, keterbukaan, semangat dan ketekunan dalam belajar. Hal-hal tersebut sangat diperlukan dalam belajar. Menurut Venny, dalam mempelajari sesuatu pastilah seseorang akan menemukan suatu kendala dan kegagalan sekecil apapun itu. Bila seseorang tidak memiliki ketekunan dan semangat, pastilah ia akan menyerak di tengah jalan ketika ada hambatan ataupun kegagalan. Manusia juga sangat memerlukan kejujuran dan keterbukaan dalam belajar. Misalnya saja ketika ia kurang memahami suatu hal, seharusnya ia bertanya pada orang yang lebih mengerti agar ia bisa memahami hal tersebut. Kejujuran di sini pun harus dilakukan ketika ia melakukan kesalahan. Bila memang manusia tersebut melakukan kesalahan, wajiblah ia mengoreksi diri dan belajar dari kesalahannya itu, Misalnya juga ketika kita melihat orang lain yang mengalami kesulitan, berdasarkan ajaran Confucius di sinilah manusia harus bisa menunjukkan “Ren”-nya. Manusia harus bisa saling mendorong satu sama lain untuk kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Sifat layak dipercaya adalah landasan utama dari semua hubungan manusia di dunia. Demikian juga pemerintah yang baik madalah yang mendapat kepercayaan dari rakyatnya. Untuk bisa mendapat kepercayaan dari rakyatnya tentu pemerintahan tersebut harus memiliki pejabat-pejabat yang layak dipercaya. Menurut saya, hal ini sangat diperlukan sebab sebagai seorang manusia, tidak hanya terbatas pada pejabat saja, tetapi juga msyarakat pada umumnya.
 Dalam segi Kristen, memang hal-hal di atas adalah penting. Dalam pandangan Kristen sendiri, Yesus mengajarkan pada kita untuk bisa mengasihi sesama kita, Matius 22 : 39“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia  seperti dirimu sendiri.” . Tuhan menginginkan kita untuk bisa saling membantu satu sama lain, mengasihi orang lain sama seperti yang kita lakukan pada diri kita sendiri. Oleh sebab itulah, maka Tuhan menciptakan manusia untuk saling membutuhkan satu sama lain. Tuhan pun menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling tinggi derajat dan akal budinya, oleh sebab itu seharusnya manusia bisa lebih bijak dalam mengambil suatu keputusan dan dalam setiap tindakannya.
Rini Herawati (30720080066) mengkritisi tentang beberapa pemikiran dari Confucius yaitu  Wulun ( ) dan  Zheng Ming (正名). Ada lima norma dasar dalam tatanan masyarakat sosial (wu lun). Lima norma dasar inilah yang menjadi tuntutan bagi kehidupan masyarakat :
1. Antara penguasa dan menteri harus ada kebijakan.
2. Antara ayah dan anak laki-laki harus ada kasih sayang.
3. Antara suami dan istri harus ada saling pengertian tentang fungsi masing-masing.
4. Antara saudara tua dan saudara muda harus berperilaku sesuai dengen tempat masing-masing.
5. Antara sahabat harus ada kesetiaan.
Menurut Rini Wulun ini mengatur hubungan sosial di dalam masyarakat. Mengatur bagaimana kita dapat bersikap dengan dalam hidup bermasyarakat.  Setelah Rini melihat sejarah kehidupan  Confucius, pemikiran ini muncul pada abad 501 SM. Ia terjun ke tengah-tengah masyarakat Zhong du  untuk melihat kehidupan rakyat dan situasi di kota itu secara langsung. Setelah itu ia menetapkan kebijakan yang dirasanya tepat untuk diterapkan di Zhong du untuk memperbaiki keadaan di sana. Kemudian ia melakukan pembenahan di kota tersebut. Ia melakukannya melalui pendidikan moral kepada rakyat Zhong du baik dengan kata-kata atau pun tindakan-tindakannya yang baik untuk diteladani. Karena itu tidaklah mengherankan jika dalam waktu singkat (tiga bulan), dia berhasil mewujudkan pembaharuan kehidupan moral di sana. Pada masa itu, rakyat Zhong du benar-benar memiliki sikap hidup dan pemikiran yang selaras dengan tatanan moral; mereka menghormati orang yang lebih tua, dan memperlakukan yang orang-orang muda dengan penuh cinta dan kebaikan hati
Dalam Wulun, Confucius mengajarkan kepada masyarakat untuk saling menghormati satu sama lain. Ia mengajarkan kepada masyarakat dan raja untuk menjaga keharmonisan kelurganya dan masyarakatnya agar hidup harmonis. Menurut saya Confucius mengajarkan hal ini kepada masyarakat Zhong du karena dia melihat bahwa keadaan masyarakat di sana kurang baik, dimana perdana menteri yang tidak kompeten, perseteruan dan intrik politik di antara para pejabat negara membuat rakyat hidup menderita dan tertekan. Jika dianalisis dari dasar filosofinya, dasar filosofinya adalah moralitas pribadi, kita dapat melihat bahwa Confusius ini adalah seseorang yang sangat menjunjung tinggi moral, oleh karena itu ketika dia melihat suatu kondisi yang bertentangan dengan moral yang dia anggap benar ia langsung berusaha untuk mengubahnya. Selain itu juga kita dapat melihat bahwa ajaran utama konfusianisme adalah “yen” dan “li”. Yen diartikan sebagai cinta, atau lebih luas lagi keramahtamahan. Sedangkan li diartikan  sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama dan sopan santun. Nilai-nilai lainnya dalam ajaran Konfusius adalah kebajikan dan kebenaran.
Dalam Alkitab juga dikatakan dalam Efesus 5 : 22 – 33 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.”, yaitu berisi tentang Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri. Dalam Alkitab pun terdapat aturan yang hampir sama dimana seorang istri harus tunduk kepada suaminya. Namun bedanya adalah konfusius tidak mendasarkan pemikirannya itu kepada Tuhan.
Sejalan dengan pemikiran Rini dan Venny, Vallen Agnesia (30720080087) juga menyoroti Confusius dalam hal Cinta Kasih. Setiap manusia memiliki Yen. Yen berarti setiap manusia harus memiliki keluhuran budi, cinta, dan kemanusiaan dalam dirinya. Orang yang telah memiliki Yen bersedia mengorbankan dirinya untuk menjaga keseimbangan dirinya dengan orang lain. Hal ini membuat Yen tetap berada di dalam dirinya. Di dalam masyarakat, orang yang memiliki Yen terlihat sebagai orang yang ulet, rajin, dan suka bekerja. Di dalam kehidupan sebagai individual, orang yang memiliki Yen terlihat sebagai orang yang ramah, tidak mementingkan diri sendiri, dapat merasakan penderitaan orang lain serta dapat menghargai perasaan orang lain dengan mengukur diri sendiri. Kata kunci utama etika para pengikut Confucius adalah YEN, yang dapat diterjemahkan secara bervariasi sebagai Cinta Kasih, Moralitas, Kebajikan, Kebenaran, dan Kemanusiaan. Yen merupakan perwujudan akal budi luhur dari seseorang yang mana dalam hubungan antar manusia, Yen diwujudkan dalam cung, atau sikap menghormati terhadap seseorang (tertentu) ataupun orang lain (pada umumnya), dan shu, atau sikap mementingkan orang lain (altruisme) dimana terkenal dari ucapan Confucius sendiri, "Janganlah engkau lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin engkau lakukan terhadap dirimu sendiri". Vallen setuju dengan ajaran moral yang diajarkan Confucius. Seperti yang dia katakan di atas, sama dengan yang dikatakan di Alkitab dalam Matius 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Vallen juga setuju mengenai hubungan timbal balik yang dipaparkan Confusius. Untuk menjaga keseimbangan, manusia harus menjaga 5 hubungan timbal balik sebagai suatu lingkaran keseimbangan hidup, yaitu hubungan yang seimbang. 1) Hubungan antara ayah dan anak. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka Ayah mencintai anaknya dan anak menghormati ayahnya. 2) Hubungan antara saudara tua dan saudara muda. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka yang lebih tua berlaku baik terhadap yang muda dan yang muda menghormati yang lebih tua. 3) Hubungan antara suami dan istri. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka suami akan berbuat baik kepada istinya dan istrinya memperhatikan suaminya. 4) Hubungan antara kawan yang lebih tua dan yang lebih muda umurnya. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka timbul perasaan kasih sayang terhadap satu sama lain dan yang satunya menghormati dan menghargainya. 5) Hubungan antara raja dan rakyatnya. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka raja akan bertindak adil dan melindungi raknyatnya, dan raja akan setia dan taat kepada rajanya.
Berbeda dengan yang sebelumnya, Zeinwi E. Situmorang (30720080096) mencoba mengkritisi melalui sudut pandang yang berbeda. Ajaran Confucius berupa perikemanusiaan (Jen), kelayakan (Yi), sopan santun (Li), kebijaksanaan (Chi'h), pendidikan, pembetulan nama (Cheng Ming), bakti kepada keluarga, dan harmoni social. Zeinwi akan memfokuskan terhadap perikemanusiaan (jen). Menurut Zeinwi, Confusius tidak terlalu memfokuskan terhadap pengertian jen itu sendiri terlihat dari adanya perbedaan arti jen itu sendiri dalam beberapa percakapan contohnya ketika  Yen Yuan bertanya mengenai Jen, Confusius menjawab, “Menguasai diri sendiri dan kembali pada kesopanan (propriety), itulah Jen . Di sini Jen diartikan sebagai pengembangan diri menuju pribadi yang matang dan dewasa. Selanjutnya ketika seseorang bertanya tentang arti Jen, Konfusius berkata, “Jen berarti mencintai [sesama] manusia . Konfusius ternyata tidak menawarkan ataupun mempertahankan definisi tertentu tentang Jen. Ia mengembangkan arti Jen menurut konteks percakapannya. (Paulinus Kalkoy). Menurut Zeinwi, dari contoh diatas kita bisa mengetahui ada banyak arti jen namun berbeda penggunaan artinya. Dari berbagai bacaaan  Jen dapat diterjemahkan dengan bervariasi sebagai cinta kasih, moralitas, kebajikan, kebenaran, dan kemanusiaan. Konfusius mengatakan bahwa jen adalah sifat utama manusia. Dan cinta adalah sifat paling mendasar dalam hati manusia untuk menunjukkansifat-sifat ideal manusia. Oleh karena itu menurut saya cinta adalah pengertian yang paling mendasar. Cinta kepada sesama manusia maupun diri sendiri akan menciptakan keharmonisan dalam bermasyarakat. Seperti yang dikatakan konfusius bahwa kemampuan manusiawi untuk mencintai merupakan inti dari hakikat sejati.
Zeinwi melihat bahwa ajaran Confusius memiliki kesamaan dengan hukum yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Yaitu mengasihi sesama. Dalam Matius 19:19 tertulis hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Tuhan Yesus juga banyak mengajarkan tentang kasih, tetapi Tuhan mengajarkan bahwa manusia mampu mengasihi hanya karena anugerah dari Bapa bukan seperti yang diajarkan Confusius yang mengatakan bahwa cinta atau kasih berasal dari diri manusia itu sendiri.
Yenni Natalina Buknoni (30720080093) juga mencoba memaparkan pandangannya mengenai ajaran Confucius. Confucius seorang filsuf besar Cina, orang pertama yang mengembangkan sistem yang memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang paling mendasar. Pokok ajarannya adalah bagaimana menciptakan keharmonisan dalam kehidupan, yaitu di antaranya mengenai standar moral pemerintah dan rakyat, hubungan keluarga, hubungan sosial, keadilan dan ketulusan hati melakukan semua itu. Filosofinya didasarkan pada moralitas pribadi dan konsepsi suatu pemerintahan mengenai cara-cara melayani rakyat dan memerintahnya melalui tingkah laku teladan. Dia tidak bosan-bosannya menekankan bahwa penguasa harus memerintah pertama-tama dengan memberi contoh teladan yang moralis dan bukannya melalui kekerasan. Menurutnya, ada tiga asas penting yang mendasari keberhasilan suatu pemeritahan, yaitu  penyediaan makanan yang mencukupi untuk rakyat, kuantitas tentara yang cukup untuk melindungi negara dan kepercayaan penuh dari rakyat. Selain itu, ia juga menggarisbawahi arti penting seorang warga menaruh hormat dan taat kepada pemerintahannya. Dia menekankan kewajiban-kewajiiban yang ditujukan kepada pribadi-pribadi daripada menonjolkan hak-haknya. Hal yang menyebabkan aliran Confucius mempunyai pengaruh yang begitu besar adalah karena kejujuran dan kepolosannya. Dia seorang yang moderat dan praktis serta tidak meminta banyak hal yang memang tidak sanggup dilaksanakan orang. Namun pada zaman dinasti Chou, masa di mana berkembangnya kehidupan intelektual di Cina, penguasa saat itu sama sekali tidak memedulikan ajaran-ajarannya. Bahkan pada tahun 221 SM, Kaisar Shih Huang Ti, kaisar pertama dinasti Ch’ing bertekad bulat memberantas, dan menghabisi ajaran-ajaran Confucius dengan menggerakkan mata-mata, tukang pukul, dan pengacau bayaran untuk melakukan penggeledahan besar-besaran, merampas semua buku yang memuat ajarannya. Ketika Dinasti Chin mendekati keruntuhannya, penganut-penganut Confucius bangkit kembali dan mengobarkan lagi doktrin Confucius. Pada masa berikutnya, yaitu Dinasti Han (206 SM-220 M) Confucius menjadi filsafat resmi negara Cina. Mulai dari Dinasti Han, kaisar-kaisar Cina secara bertahap mengembangkan sistem seleksi bagi mereka yang ingin menjadi pegawai negeri dan pejabat istana dengan jalan menempuh ujian supaya yang menjadi pegawai negeri bukan orang sembarangan, melainkan mempunyai standar kualitas baik keterampilan maupun moralnya. Lama kelamaan seleksi semakin terarah dan berbobot dengan mencantumkan mata ujian filosofi dasar Confucius. Akibatnya, selama berabad-abad seluruh pegawai negeri Cina terdiri dari orang-orang yang pandangannya berpijak pada Confucius.
Menurut Yenni, jika kita lihat sepintas dari ajarannya, kita akan menduga bahwa Confucius adalah salah satu umat Kristiani. Apalagi salah satu ajarannya yang sangat mirip dengan Matius 7:12. Namun sayangnya tidak. Saya memang setuju dengan ajaran Confucius tentang hubungan antara pemerintah dan rakyat. Namun, yang menjadi pertanyaan saya adalah apa standar moral yang dia gunakan dalam hubungan antara pemerintah dan rakyat karena dia sama sekali tidak membahas Alkitab sebagai sumber kebenaran dan sumber moral yang mutlak. Padahal, dalam Roma 13:1-7 saja dijelaskan bahwa sebagai warga negara, kita wajib untuk patuh dan taat kepada pemerintah. Karena barangsiapa yang melawan pemerintah berarti melawan perintah Allah. Pemerintah dan rakyat sama-sama mempunyai tanggungjawabnya masing-masing. Oleh karena itu, setiap orang wajib untuk melakukan peranannya tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Brown, Collin. (1996). Filsafat dan Iman Kristen II. Surabaya: Momentum GRII
De, Jong N. (2003). Education in the truth. New Jersey : Publishing
Hadiwijono. (1988). Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Hart, Michael H. (2005). 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Masa. Jakarta: Tim Penerbit
Oliver, Martin. (1997). History of Philosophy. London: Octopus Publishing Group
Waley, Arthur. (1989). The Analect of Confucius. New York: Vintage Books
Hwie-Song,Han. (2005). Kong Fu Zhi - Zi Gong dengan berani membela gurunya dan mengkritik Pangeran Ai. Retrieved November 27, 2010, from http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/11716 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar